Alkisah Ibu Jari
"Kelingking, apakah kamu tidak ingin mencoba menjadi seorang pemimpin?" tanya jari Manis.
"Menjadi pemimpin? Ah, aku masih terlalu kecil untuk menjadi seorang pemimpin." jawabnya dengan lugu. Dan mimik jari Manis pun berubah menjadi tidak manis setelah ia mendengar jawaban si kecil Kelingking. Dan tentu saja itu membuat Kelingking menjadi penasaran.
"Memangnya ada apa Manis?"
"Begini, aku tidak sengaja mendengar perbincangan antara si Telunjuk dan si Tengah.." sebelum jari Manis meneruskan ceritanya, Kelingking sudah memotongnya.
"Tentu saja kau mendengarnya, mereka kan berada di sebelahmu."
"Iya, kau benar. Dan aku mendengar bahwa mereka akan mengadu ke Yang Dipertuan Agung Pergelangan Tangan mengapa mereka tidak diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin kita. Aku heran kenapa mereka benar-benar ingin menjadi seorang pemimpin." tanya jari Manis.
"Bukankah itu bagus Manis?" Kelingking bertanya heran.
"Apanya yang bagus, karena mereka kurang puas dengan jabatan mereka sekarang maka mereka akan mengadu ke Yang Dipertuan Agung sebab mereka sirik kepada sang Jempol dan itu membuat Jempol bersedih, sekarang hubungan mereka sedang kurang harmonis." jari Manis menjelaskan.
*
"Hey Tengah! Kapan kita akan bicara kepada Yang Dipertuan Agung? Aku pikir kita harus mengatakan secepatnya. Semakin cepat akan semakn baik." sahut Telunjuk kepada si Tengah.
"Kalau begitu mari kita mengatakannya sekarang juga." balas Tengah dengan semangat. Lalu merekapun segera mengutarakan keinginan mereka yang sebenarnya kepada Yang Dipertuan Agung Pergelangan Tangan.
"Apakah kalian tidak merasa bahwa jabatan kalian sekarang adalah yang terbaik bagi diri kalian masing-masing?" tanya Pergelangan Tangan dengan bijak.
Telunjuk dan Tengah tetap bersikeras dengan keinginan mereka.
"Baiklah, aku akan beri kesempatan kepada kalian berdua. Apapun yang terjadi nanti kalian harus menerimanya, setuju?"
Mereka berdua mengangguk pertanda setuju.
*
"Hari ini giliranku yang memimpin." sahut Telunjuk bangga. Selama salah satu dari mereka berdua yang memimpin, keempat jari lainnya tidak diperbolehkan berdiri, semuanya harus duduk melipat. Saking gembiranya Telunjuk pun menari-nari menggoyangkan tubuhnya. Dan tiba-tiba Telunjuk dikejutkan oleh tangisan seorang anak kecil yang tengah melihatnya. Ternyata, anak tersebut menangis karena ia mengira Telunjuk memarahinya seperti ia ingat bagaimana ibunya memperingatkan jika ia nakal dengan mengacungkan jari telunjuk ke arahnya dan menggoyangkannya. Dengan kejadian itu, Yang Dipertuan Agung menyatakan bahwa Telunjuk gagal menjadi seorang pemimpin karena telah membuat seorang anak menangis dan ia pun mengingatkan sekali lagi kepada kelima jari itu bahwa keberadaan mereka tiada lain adalah untuk membantu manusia meringankan pekerjaannya bukan membuatnya menderita bahkan menangis.
"Tengah, aku gagal, sekarang giliranmu, cobalah!" sahut Telunjuk memberikan semangat namun dengan nada kecewa.
Tengah pun berusaha dengan hati-hati. Dia dapat bernapas lega ketika seorang anak kecil menirukan posisinya berdiri namun anak itu tidak menangis.
"Ah, syukurlah.." kata Tengah dalam hati. Namun tiba-tiba terdengar suara tangis, ternyata anak tadi menangis sebab dimarahi oleh ibunya karena menirukan posisi berdiri jari Tengah.
"Itu tidak baik! Tidak sopan! Siapa yang mengajarimu demikian?" kata ibu tersebut kepada anaknya yang masih kecil tadi. Ternyata Tengah pun gagal. Posisi ia berdiri menandakan arti yang tidak pantas.
"Kita sama-sama gagal Tengah, sudah jangan bersedih." bujuk Telunjuk.
*
"Nah, Telunjuk dan Tengah, kalian sudah mengetahui jawabannya bukan? jabatan kalian sebelumnya adalah yang terbaik bagi diri kalian masing-masing. Aku sungguh telah memikirkan sebelumnya dengan matang." kata Yang Dipertuan Agung Pergelangan Tangan.
"Jempol, sampai kapanpun kau selalu akan menjadi pemimpin keempat jari ini." sambungnya.
Jempol pun berdiri kembali seperti sediakala dan terlihat anak-anak juga para ibu mengembangkan senyum bangga, karena saat sang Jempol berdiri itu menandakan bahwa mereka semuanya telah mengerjakan tugasnya dengan amat baik.
"Iya, kau memang pemimpin kami, ibu kami." sahut jari Manis.
"Kau adalah Ibu Jari!" tambah Kelingking.
***
|2002, tgs b.indo kls 2 sma. cupu bgt ya? huhu.. naïf.. filosofi ngarang sndirii.. critanya mau bikin bedtime story heu3|


2 Comments:
kirain sy ahirnya mrk b2 berdiri bersama dan mendamaikan dunia,, ky alam,,
pisss ah,, (",)y
huu... kan judulnya alkisah ibu jari =p
Post a Comment
<< Home