6 bulan kemudian...
Enam bulan berlalu. Semua kesedihan ini Allah bayar dengan menghadiahkan aku ber-isra' mi'raj. Umroh bersama ibu dan dua bulan homestay di Turki. Singkat cerita, aku nangis sejadi2nya saat melihat ka'bah. Ga nyangka aku yg hampir nolak kesempatan itu akhirnya bs kembali melihat ka'bah di dpn mata! Kalo Allah blg jadi, ya jadi. Anehnya justru disana aku tidak lg merasakan bapak. Allah berkata, "Ayahmu milikKu, dia ada di tanganKu. Jgn khawatir." Baiklah, aku ikhlas. Sepulang umroh aku bertambah yakin kalo Allah tidak pernah meninggalkanku. Allah selalu memperhatikan dan melihat usaha kita.
Dan kamu, aku pun mulai berusaha merelakanmu tapi waktu aku dengar berita tragedi Ayah, aku pun larut dan sadar kalo rasa ini akan slalu ada dan justru kembali menguat.
Kesempatan ke Turki tiba, sepenuh hati aku berniat merelakanmu. Aku pergi dengan beban rasa dan harapan yg pupus, kamu dan kakang. Two men who truly broke my heart. Kakang?! Yeah.. Shit happened :"((( Beruntungnya, eat-pray-luv sekali hidupku di Turki. Eat? berat badan nambah 5 kilo. Pray? puasa 17 jam, teraweh yg ga pernah absen, khatam qur'an, dan bergantung hanya padaNya. Luv? a nice Czech guy distracted me from u. Kembali kesini karena Ibu.
Momen kembali ini aku berniat pamit untuk stay lebih lama disana. Kontrak satu tahun ajaran di sekolah, yg sejujurnya aku berniat untuk pergi selamanya. Semua yg disini terasa udh 'ga pas' lagi. Aku ingin pergi. Lepas dari semua. Tapi Allah Maha Bijaksana dan menahanku disini. Alasannya foreign teacher dilarang memakai hijab. Konyol tp ya sudahlah. Aku dapat gantinya mengajar di EF. Tetap di bdg.
Dan kamu, tetap di udara. Akankah angin menyampaikan salamku? Tidakkah kau dengar setiap hela nafas rinduku? Kemanapun akhirnya kamu berlabuh, kamu ga akan sanggup menghapus aku. Karena aku bagian rusukmu. Aku hidup di dalammu. Semoga tiba waktumu menjemputku.
0 Comments:
Post a Comment
<< Home